I-C4ke (I Care 4 Earthquake)
Created for Final Project of Communication Technology, Communication Faculty of Petra Christian University
Minggu, 18 Desember 2011
Jumat, 16 Desember 2011
Infografik Sederhana
Alat detektor gempa terbaru :
- 3 SR langsung berbunyi.
- Akan merekam kekuatan gempa, titik gempa, kedalaman gempa, pusat gempa, dan radius gempa.
- Dilengkapi antenna yang akan mengirimkan informasi ke BMKG (dengan bantuan satelit).
- Ditempatkan ditempat-tempat yang rawan gempa, di dekatnya ada sebuah stasiun pengontrol.
- Diletakkan dalam tanah.
Proses :
1. Ketika terjadi gempa, detektor bereaksi.
2. Detektor mentransmisikan informasi gempa ke BMKG dengan perantara satelit.
3. BMKG menyampaikan informasi via media mainstream atau lewat social media miliknya (Fb, Twitter, & Website). Penyiaran dilakukan dengan menara pemancar tipe terbaru dengan kekuatan jangkauan yang lebih luas dan sinyal yang kuat.
4. BMKG juga menyampaikan ke pemerintah pusat untuk kemudian disampaikan ke Perda & masyarakat.
5. Pihak-pihak lain yang berkepentingan juga akan mendapatkan informasi.
6. BMKG akan selalu memberikan informasi ter-update.
Antisipasi untuk keselamatan dari gempa :
- Berlari ke tempat yang aman.
- Bersembunyi di bawah meja.
- Berhenti melakukan segala aktifitas untuk mencari perlindungan.
-
Berkomunikasi cari informasi, koneksi, dan berkoordinasi dengan orang lain.
Kamis, 15 Desember 2011
Penjelasan Infografik
1. Alat detektor gempa diletakkan di daerah – daerah yang rawan gempa, dan diletakkan agak di dalam tanah. Di dekatnya, terdapat pos penjaga untuk mengontrol kinerja alat.
2. Alat ini memiliki antena, yang terhubung dengan satelit. Saat terjadi guncangan / gempa (minimal 3 SR), maka alat ini akan mengirimkan sinyal untuk disiarkan dengan bantuan satelit.
3. Alat detektor gempa akan mengirimkan data berupa statistik gempa (kekuatan, lokasi, kedalaman, radius, pusat gempa, dan potensi tsunami) ke satelit.
4. Satelit*lalu menerima data ini, dan mentransmisikan ke menara – menara pemancar.
5. Menara pemancar yang ada antara lain : media massa mainstream, BMKG Pusat, dan pihak – pihak lain yang mendukung.
6. Ketika diterima oleh BMKG, maka data ini akan diteruskan ke daerah – daerah dengan perantara media massa, internet, ataupun jejaring sosial. Dari pusat, informasi mengenai gempa ini akan disosialisasikan ke masyarakat, baik di kota maupun daerah.
7. Penyiaran oleh BMKG dilakukan dengan menara pemancar tipe terbaru dengan kapasitas jangkauan yang lebih luas dan sinyal yang lebih kuat.
7. Penyiaran oleh BMKG dilakukan dengan menara pemancar tipe terbaru dengan kapasitas jangkauan yang lebih luas dan sinyal yang lebih kuat.
8. Ketika diterima oleh media massa mainstream, maka media – media tersebut akan menyiarkan kembali untuk daerahnya, dan untuk media – media lokal. Media lokal juga akan melakukan hal yang sama, sehingga informasi mengenai gempa bisa disebarkan lebih luas.
9. Pihak – pihak lain yang juga menerima informasi ini antara lain adalah organisasi – organisasi yang bergerak dalam bidang antisipasi gempa.
10. Proses ini akan memudahkan proses evakuasi pra , saat, dan pasca gempa terjadi.
11. Dengan demikian, sumber informasi yang ada merupakan sumber informasi yang benar – benar terpercaya, karena berasal dari alat detektor gempa dan BMKG Pusat.
IC4KE sebagai organisasi yang juga bergerak di bidang antisipasi gempa akan melakukan beberapa hal yang dapat membantu proses penyelamatan seperti membantu evakuasi, membuka peluang relawan, menggalang dana, dan lain – lain. IC4KE bekerjasama dengan pemerintah dan juga beberapa media massa untuk bisa melakukan kegiatannnya. IC4KE juga menggunakan jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, dan Youtube untuk memudahkan akses kegiatan.
Alasan Pemilihan Topik
Kami memilih topik Gempa Bali karena beberapa pertimbangan. Sebagian besar alasannya terkait dengan beberapa kendala yang ditemukan saat gempa Bali terjadi.
Berikut adalah beberapa kendala yang menjadi pertimbangan kami :
Berikut adalah beberapa kendala yang menjadi pertimbangan kami :
1.Jaringan telekomunikasi yang sempat mengalami kerusakan sebesar 40%
2.Informasi yang tersendat (himbauan) dari pihak BMKG kepada masyarakat terkait gempa
3.Minimnya sumber informasi resmi
4.Minimnya sarana media massa untuk informasi
5.Alarm tsunami early warning system yang hanya akan berbunyi bila terjadi gempa besar, di atas 7 SR.
Dari kendala - kendala inilah maka kami ingin mencari solusi yang baik. Kami memilih topik ini karena kami ingin memberikan solusi - solusi agar bila terjadi bencana di masa yang akan datang, kendala - kendala tersebut bisa diatasi.
Sekilas Berita
Bali Gempa, 14 Daerah Jatim Goyang
- Jumat, 14 Oktober 2011 | 07:36 WIB
SURABAYA | SURYA - Gempa dengan kekuatan 6,8 Skala Richter (SR) yang mengguncang Nusa Dua, Bali, Kamis (13/10) sekitar pukul 11.16 WIT atau 10.16 WIB juga menggoyang setidaknya 14 wilayah di Jawa Timur.
Kerusakan paling parah akibat gempa di Bali terjadi di Jember dan Banyuwangi, bahkan di Jember menyebabkan jatuhnya korban. Akibat guncangan yang cukup keras itu, sejumlah rumah dan gedung ambrol. Gempa juga menyebabkan seorang pekerja, Yono, di kompleks pembangunan laboratorium bahasa Universitas Jember (Unej) terjatuh dari tangga. Akibatnya, punggungnya cedera dan harus dirawat di Rumah Sakit Daerah (RSD) dr Soebandi.
Gempa juga menggoyang dan membuat panik warga setidaknya di wilayah Bondowoso, Lumajang, Probolinggo, Malang, Kediri, Blitar, Trenggalek, Pacitan, Ponorogo, Surabaya, Gresik, dan Pamekasan.
Di Jember, tembok rumah Syafi’i (33), warga Lingkungan Patrang Tengah Kelurahan/Kecamatan Patrang ambruk sepanjang 12 meter. Ambruknya tembok itu terjadi ketika gempa dirasakan cukup kuat pada getaran kedua.
“Perasaan saya tidak enak ketika gempa karena keras sekali dan memilih pulang dari tempat kerja, ternyata tembok sudah ambruk. Beruntung anak istri saya ada di luar rumah,” ujar Syafi’i.
Selain membuat sejumlah tembok rumah dan bangunan ambruk, gempa bumi juga membuat panik warga Jember. Sedikitnya 1.000 orang yang bekerja di sebuah gudang tembakau di Desa Kertosari, Kecamatan Pakusari semburat keluar ketika bumi bergoyang. Mereka berlarian sambil menjerit dan tidak sedikit yang menangis. Karenanya pihak perusahaan memilih memulangkan mereka lebih awal. Apalagi para pekerja yang sebagian besar perempuan itu juga mengkhawatirkan anak mereka.
Dari pantauan Surya di Banyuwangi, saat terjadinya gempa, semua karyawan yang ada di gedung-gedung perkantoran berhamburan keluar. Ribuan warga juga berlarian keluar rumah dengan meneriakkan takbir Allahhu Akbar berkali –kali. Kerusakan gedung di antaranya terjadi di kantor DPRD Banyuwangi. Beberapa titik gedung retak dan gentingnya ambrol.
Di Surabaya, ribuan pegawai negeri sipil (PNS) Pemkot Surabaya dan Pemprov Jatim semburat keluar gedung lantaran getaran gempa bumi. Guncangan gempa lebih besar dirasakan di lantai 7 Gedung Pemprov Jatim. Saat itu, di Ruang Majapahit gedung, tengah berlangsung rapat koordinasi persiapan peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2011 oleh Biro Administrasi Kemasyarakatan.
Sunaryo, yang mengikuti rapat tersebut mengatakan, ketika merasakan ada gempa, belasan orang yang sedang rapat langsung semburat ke luar ruangan. Rapat pun langsung berhenti seketika. “Semua teriak, ada gempa … ada gempa, ayo cepat keluar,” katanya. Gempa dirasakan berlangsung sekitar 10 detik.
Warga yang bermukim di dekat kawasan Pantai Selatan di Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, hingga Kamis sore belum berani kembali ke rumah, pascagempa yang terjadi di Nusa Dua.
Staf Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Supriyadi mengatakan, saat terjadi gempa sekitar pukul 10.16 WIB, seluruh warga berhamburan ke luar rumah untuk menyelamatkan diri. “Mereka panik dengan berlari ke luar rumah setelah merasakan gempa itu, dan hingga kini (Kamis sore) mereka belum berani kembali ke rumah, kemungkinan masih trauma,” ucapnya.
Kepanikan tak kalah hebat juga dialami warga di kawasan lereng Gunung Semeru di Lumajang. Warga ketakutan, gempa itu akan berdampak pada aktivitas Semeru karena hampir bersamaan datangnya gempa, kawah Semeru memuntahkan material dan asap tebal kemerahan.
Saat gempa terjadi, masyarakat di lereng Gunung Semeru panik dan berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Sebagian warga mengira kalau gempa tersebut disebabkan meletusnya Gunung Semeru. Saat berada di luar rumah, dengan hati deg-degan, warga langsung melihat Semeru.
Saat itu terlihat Semeru mengeluarkan kepulan asap yang membubung tinggi disertai muntahan material vulkanik. Begitu banyaknya material, gugurannya hingga mencapai kaki gunung.
“Usai terjadinya gempa, warga sini keluar semua dari rumah. Warga melihat apakah gempa itu dari Semeru atau dari daerah lain. Saat itu kami melihat Semeru mengeluarkan asap cokelat kemerahan,” ujar Heri, warga Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Kamis (13/10).
Lempengan Patah
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian ESDM telah memerintahkan pos-pos pengamat memelototi sejumlah gunung berapi di Jawa Timur dan Bali pascagempa di Nusa Dua.
”Pengamat agar hati-hati saja, ini SOP (Standard Operation Procedure),” kata Kepala Bidang Pengamatan Gunung Api, PVMBG, Hendrasto, seperti dilansir tempointeraktif, Kamis (13/10).
Sejumlah gunung api yang diminta diawasi lebih ketat itu, antara lain, Gunung Raung, Gunung Ijen, Gunung Batur, Gunung Agung, serta Gunung Semeru. ”Saya pesan, sering-sering dilihat. Kalau ada apa-apa, cepat laporkan,” kata Hendrasto.
Menurutnya, posisi pusat gempa di 143 kilometer arah Barat Daya, Nusa Dua Bali, lebih dekat dengan wilayah Jawa bagian timur. Namun demikian, Hendrasto mengatakan, sejumlah gunung api aktif yang relatif berdekatan dengan pusat gempa belum menunjukkan perubahan aktivitas yang signifikan, termasuk Gunung Semeru yang sempat dilaporkan mengeluarkan asap lebih pekat dibandingkan biasanya.
Hendrasto membenarkan Semeru mengeluarkan asap pekat, namun asap yang keluar itu terhitung normal. “Tidak sering, katanya, tapi biasa terjadi. Mungkin asapnya bercampur debu,” katanya. Menurut Hendrasto, kendati tidak berpengaruh langsung, pihaknya tetap mewaspadai kemungkinan perubahan aktivitas gunung api akibat gempa Bali itu.
Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Karang Kates Adi Supriyanto mengatakan kewaspadaan terjadinya gempa susulan tetap perlu dilakukan, karena wilayah seperti Banyuwangi, Jember, Lumajang, dan Malang cukup dekat dengan Bali. Sehingga guncangan yang terasa juga lebih keras dibandingkan wilayah lain di Jatim.
Meski demikian, Adi minta masyarakat tidak panik. “Apalagi jika dikatakan akan terjadi gempa besar, jangan percaya itu, karena tak benar,” sarannya.
Pakar pemodelan gempa bumi dan deformasi permukaan bumi dari ITB, Irwan Meilano mengatakan gempa Bali bukan akibat subduksi atau tumbukan dua lempeng, melainkan patahan di dalam lempeng Eurasia (intraplate). “Terjadi di dalam kerak benua, mirip gempa Tasikmalaya 2009,” katanya.
Menurut dia, gempa terjadi karena campuran patahan geser dan sesar naik. Berdasarkan data dari United States Geological Survey (USGS), kekuatan gempa itu 6,1 Skala Richter dengan kedalaman 61 kilometer. “Karena itu, gempanya tidak menimbulkan kerusakan terlalu parah,” katanya.
Adapun BMKG mencatat, gempa yang terjadi pukul 10.16 Waktu Indonesia Tengah di Bali yang tidak berpotensi tsunami itu berasal dari kedalaman 58 kilometer. Lokasinya berada di 9.89 Lintang Selatan-114.53 Bujur Timur atau sekitar 143 kilometer Barat daya Nusa Dua, Bali. Kekuatan gempanya mencapai 6,8 Skala Richter hingga terasa di sejumlah wilayah di Jawa Timur.
Potensi gempa susulan, kata dosen dari Kelompok Keahlian Geodesi ITB itu, masih berpeluang terjadi dengan kekuatan kecil. “Kecil kemungkinan untuk terjadi gempa lebih besar,” katanya.
Sementara itu, pakar gempa dari ITS, Dr Amien Widodo mengatakan, sejumlah wilayah di Jatim, terutama bagian selatan, berpotensi terjadi gempa. Sebab, kawasan ini masuk wilayah pertemuan lempengan Samudra Hindia menumbuk lempengan Eurasia (Eropa Asia). Di selatan Jawa tumbukan itu sepanjang 200 km. “Meski demikian masyarakat tidak perlu panik. Meski gempa tidak bisa diprediksi, namun bisa diketahui melalui aktivitasnya,” katanya.
Gempa di Bali tidak hanya menyebabkan sejumlah bangunan rusak di beberapa daerah, tapi juga menyebabkan korban luka-luka. Palang Merah Indonesia (PMI) melaporkan, sampai Kamis malam sudah puluhan orang yang luka-luka. Tercatat 32 orang terluka dan dua lainnya masih diidentifikasi.
Sumber : ant
Penulis : uni/st39/st35/tiq/uji/iks/fai
Editor : Sugeng Wibowo
Sumber : Surya.
Penulis : uni/st39/st35/tiq/uji/iks/fai
Editor : Sugeng Wibowo
Sumber : Surya.
Informasi mengenai Bencana dan Upaya Pemulihan
BENCANA
Bencana merupakan interupsi signifikan terhadap kesinambungan (going concern) kegiatan operasi sehari-hari yang bersifat normal dan berkesinambungan bagi suatu entitas, yang berpengaruh kepada anggota dalam entitas, pemasok entitas, pelanggan entitas dan berbagai stakeholder yang lain. Bencana tetap merugikan mungkin tak mengganggu going concern atau kontinuitas operasi sehari-hari sering disebut musibah atau kecelakaan. Interupsi dapat menyebabkan berbagai proyek, program dan kegiatan Pemda yang hampir selesai, tiba-tiba menjadi sia-sia (nol). Putusnya kontinuitas aktivitas ekonomi menyebabkan GDP dan PAD mengalami penurunan dahsyat, bahkan sebagian kegiatan ekonomi putus.
Bencana dapat berupa :
(1) fenomena alam seperti banjir, kekeringan, gempa bumi, topanbadai, kebakaran karena alam (gunung meletus, kebakaran hutan musim kemarau, apigambut abadi, fokus sinar matahari oleh potongan beling disemak belukar)
(2) akibat kelalaian manusia seperti kebocoran nuclear plant atau pipa gas, kebakaran karena kelalaian, tumpahan minyak di laut yang tak disengaja, arus pendek listrik, penyebaran virus
(3) kejahatan seperti sabotase, pembakaran, peledakan, penyebaran virus dan
perusakan fisik aset. Sebuah bencana banjir dapat menyebabkan kerugian fisik dalam miliar dollar.
PEMULIHAN PASCA BENCANA
Rencana pemulihan harus berkualitas, disusun secara lengkap dan disempurna kan dari tahun ketahun. Makin pendek masa pemulihan, makin kecil kerugian akibat bencana. Sebaliknya, makin panjang masa pemulihan, makin lama mulainya kembali masa produktif. Dengan demikian pendek waktu pemulihan merupakan hal yang terpenting, setiap hari perpanjangan waktu pemulihan mungkin adalah satu hari perpanjangan masa tidak produktif entitas tersebut. Kondisi fisik aset belum pulih mengganggu estetika (rasa keindahan), memelihara rasa gamang, duka-nestapa, yang menyebabkan semangat membangun terganggu bahkan berisiko menyebabkan kerusakan moral. Strategi pemulihan pasca bencana telah dimulai sebelum bencana terjadi, menggunakan rancangan risk management untuk :
(1) risiko yang tak terduga dan
(2) risiko yang diduga (pasti akan terjadi dan tak dapat dielakkan).
Bila bencana berskala besar, Presiden dapat mengangkat seorang Menteri Khusus untuk pemulihan bencana, untuk mengatasi masalah lintas departemen pemerintah (Jepang, Kobe) dalam kurun waktu cukup lama. Manajemen Pemda bertanggung jawab menyusun DRP paripurna, mengkomunikasikannya kepada
DPRD. Semua persiapan DRP dilakukan, dicadangan dan dialokasikan oleh APBD,
sekalipun dalam usulan anggaran defisit.
MANAJEMEN ASET BERBASIS BENCANA
Pada Disaster Recovery Planning, probabilitas dan frekuensi bencana diidentifikasi dan diurutkan, lalu entitas menyusun:
(a) daftar aset utama yang harus dijaga kelestariannya dibuat pada masa tenteram dan damai, sebelum bencana, disahkan sebagai basis perencanaan pemulihan bila terjadi bencana. Harga akuisisi aset baru (atau replacement cost) telah diketahui dan
diperbarui-dimutakhirkan. Entitas membuat dana khusus untuk penggantian aset yang
berisiko terkena bencana yang tak dapat diasuransikan. Dengan demikian tak terjadi
kegusaran perebutan sumber daya pemulihan di antara stakeholder, yang pada
umumnya minta diprioritaskan pada waktu bencana terjadi.
(b) daftar aset utama/kritikal yang dapat diasuransikan, termasuk asuransi jiwa.
(c) daftar aset yang dapat dihindarkan dari risiko bencana disusun, dan rencana kerja
penghindaran risiko dilaksanakan (relokasi, proteksi fisik dll).
sumber : www.KSAP.org
Selasa, 13 Desember 2011
Link ke Halaman Lain
Dalam prosesnya, kami juga menggunakan sarana lain. Kami juga bekerjasama dengan organisasi lain untuk bisa memberikan solusi yang baik dalam menangani gempa.
1. Facebook Fanpage : IC4KE Fanpage on Facebook
2. Badan Nasional Penanggulangan Bencana : BNPB
3. Twitter @ic4ke :Twitter @ic4ke
Silahkan untuk mengunjungi link yang sudah tersedia.
1. Facebook Fanpage : IC4KE Fanpage on Facebook
2. Badan Nasional Penanggulangan Bencana : BNPB
3. Twitter @ic4ke :Twitter @ic4ke
Silahkan untuk mengunjungi link yang sudah tersedia.
Langganan:
Postingan (Atom)


