Bali Gempa, 14 Daerah Jatim Goyang
- Jumat, 14 Oktober 2011 | 07:36 WIB
SURABAYA | SURYA - Gempa dengan kekuatan 6,8 Skala Richter (SR) yang mengguncang Nusa Dua, Bali, Kamis (13/10) sekitar pukul 11.16 WIT atau 10.16 WIB juga menggoyang setidaknya 14 wilayah di Jawa Timur.
Kerusakan paling parah akibat gempa di Bali terjadi di Jember dan Banyuwangi, bahkan di Jember menyebabkan jatuhnya korban. Akibat guncangan yang cukup keras itu, sejumlah rumah dan gedung ambrol. Gempa juga menyebabkan seorang pekerja, Yono, di kompleks pembangunan laboratorium bahasa Universitas Jember (Unej) terjatuh dari tangga. Akibatnya, punggungnya cedera dan harus dirawat di Rumah Sakit Daerah (RSD) dr Soebandi.
Gempa juga menggoyang dan membuat panik warga setidaknya di wilayah Bondowoso, Lumajang, Probolinggo, Malang, Kediri, Blitar, Trenggalek, Pacitan, Ponorogo, Surabaya, Gresik, dan Pamekasan.
Di Jember, tembok rumah Syafi’i (33), warga Lingkungan Patrang Tengah Kelurahan/Kecamatan Patrang ambruk sepanjang 12 meter. Ambruknya tembok itu terjadi ketika gempa dirasakan cukup kuat pada getaran kedua.
“Perasaan saya tidak enak ketika gempa karena keras sekali dan memilih pulang dari tempat kerja, ternyata tembok sudah ambruk. Beruntung anak istri saya ada di luar rumah,” ujar Syafi’i.
Selain membuat sejumlah tembok rumah dan bangunan ambruk, gempa bumi juga membuat panik warga Jember. Sedikitnya 1.000 orang yang bekerja di sebuah gudang tembakau di Desa Kertosari, Kecamatan Pakusari semburat keluar ketika bumi bergoyang. Mereka berlarian sambil menjerit dan tidak sedikit yang menangis. Karenanya pihak perusahaan memilih memulangkan mereka lebih awal. Apalagi para pekerja yang sebagian besar perempuan itu juga mengkhawatirkan anak mereka.
Dari pantauan Surya di Banyuwangi, saat terjadinya gempa, semua karyawan yang ada di gedung-gedung perkantoran berhamburan keluar. Ribuan warga juga berlarian keluar rumah dengan meneriakkan takbir Allahhu Akbar berkali –kali. Kerusakan gedung di antaranya terjadi di kantor DPRD Banyuwangi. Beberapa titik gedung retak dan gentingnya ambrol.
Di Surabaya, ribuan pegawai negeri sipil (PNS) Pemkot Surabaya dan Pemprov Jatim semburat keluar gedung lantaran getaran gempa bumi. Guncangan gempa lebih besar dirasakan di lantai 7 Gedung Pemprov Jatim. Saat itu, di Ruang Majapahit gedung, tengah berlangsung rapat koordinasi persiapan peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2011 oleh Biro Administrasi Kemasyarakatan.
Sunaryo, yang mengikuti rapat tersebut mengatakan, ketika merasakan ada gempa, belasan orang yang sedang rapat langsung semburat ke luar ruangan. Rapat pun langsung berhenti seketika. “Semua teriak, ada gempa … ada gempa, ayo cepat keluar,” katanya. Gempa dirasakan berlangsung sekitar 10 detik.
Warga yang bermukim di dekat kawasan Pantai Selatan di Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, hingga Kamis sore belum berani kembali ke rumah, pascagempa yang terjadi di Nusa Dua.
Staf Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Supriyadi mengatakan, saat terjadi gempa sekitar pukul 10.16 WIB, seluruh warga berhamburan ke luar rumah untuk menyelamatkan diri. “Mereka panik dengan berlari ke luar rumah setelah merasakan gempa itu, dan hingga kini (Kamis sore) mereka belum berani kembali ke rumah, kemungkinan masih trauma,” ucapnya.
Kepanikan tak kalah hebat juga dialami warga di kawasan lereng Gunung Semeru di Lumajang. Warga ketakutan, gempa itu akan berdampak pada aktivitas Semeru karena hampir bersamaan datangnya gempa, kawah Semeru memuntahkan material dan asap tebal kemerahan.
Saat gempa terjadi, masyarakat di lereng Gunung Semeru panik dan berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Sebagian warga mengira kalau gempa tersebut disebabkan meletusnya Gunung Semeru. Saat berada di luar rumah, dengan hati deg-degan, warga langsung melihat Semeru.
Saat itu terlihat Semeru mengeluarkan kepulan asap yang membubung tinggi disertai muntahan material vulkanik. Begitu banyaknya material, gugurannya hingga mencapai kaki gunung.
“Usai terjadinya gempa, warga sini keluar semua dari rumah. Warga melihat apakah gempa itu dari Semeru atau dari daerah lain. Saat itu kami melihat Semeru mengeluarkan asap cokelat kemerahan,” ujar Heri, warga Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Kamis (13/10).
Lempengan Patah
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian ESDM telah memerintahkan pos-pos pengamat memelototi sejumlah gunung berapi di Jawa Timur dan Bali pascagempa di Nusa Dua.
”Pengamat agar hati-hati saja, ini SOP (Standard Operation Procedure),” kata Kepala Bidang Pengamatan Gunung Api, PVMBG, Hendrasto, seperti dilansir tempointeraktif, Kamis (13/10).
Sejumlah gunung api yang diminta diawasi lebih ketat itu, antara lain, Gunung Raung, Gunung Ijen, Gunung Batur, Gunung Agung, serta Gunung Semeru. ”Saya pesan, sering-sering dilihat. Kalau ada apa-apa, cepat laporkan,” kata Hendrasto.
Menurutnya, posisi pusat gempa di 143 kilometer arah Barat Daya, Nusa Dua Bali, lebih dekat dengan wilayah Jawa bagian timur. Namun demikian, Hendrasto mengatakan, sejumlah gunung api aktif yang relatif berdekatan dengan pusat gempa belum menunjukkan perubahan aktivitas yang signifikan, termasuk Gunung Semeru yang sempat dilaporkan mengeluarkan asap lebih pekat dibandingkan biasanya.
Hendrasto membenarkan Semeru mengeluarkan asap pekat, namun asap yang keluar itu terhitung normal. “Tidak sering, katanya, tapi biasa terjadi. Mungkin asapnya bercampur debu,” katanya. Menurut Hendrasto, kendati tidak berpengaruh langsung, pihaknya tetap mewaspadai kemungkinan perubahan aktivitas gunung api akibat gempa Bali itu.
Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Karang Kates Adi Supriyanto mengatakan kewaspadaan terjadinya gempa susulan tetap perlu dilakukan, karena wilayah seperti Banyuwangi, Jember, Lumajang, dan Malang cukup dekat dengan Bali. Sehingga guncangan yang terasa juga lebih keras dibandingkan wilayah lain di Jatim.
Meski demikian, Adi minta masyarakat tidak panik. “Apalagi jika dikatakan akan terjadi gempa besar, jangan percaya itu, karena tak benar,” sarannya.
Pakar pemodelan gempa bumi dan deformasi permukaan bumi dari ITB, Irwan Meilano mengatakan gempa Bali bukan akibat subduksi atau tumbukan dua lempeng, melainkan patahan di dalam lempeng Eurasia (intraplate). “Terjadi di dalam kerak benua, mirip gempa Tasikmalaya 2009,” katanya.
Menurut dia, gempa terjadi karena campuran patahan geser dan sesar naik. Berdasarkan data dari United States Geological Survey (USGS), kekuatan gempa itu 6,1 Skala Richter dengan kedalaman 61 kilometer. “Karena itu, gempanya tidak menimbulkan kerusakan terlalu parah,” katanya.
Adapun BMKG mencatat, gempa yang terjadi pukul 10.16 Waktu Indonesia Tengah di Bali yang tidak berpotensi tsunami itu berasal dari kedalaman 58 kilometer. Lokasinya berada di 9.89 Lintang Selatan-114.53 Bujur Timur atau sekitar 143 kilometer Barat daya Nusa Dua, Bali. Kekuatan gempanya mencapai 6,8 Skala Richter hingga terasa di sejumlah wilayah di Jawa Timur.
Potensi gempa susulan, kata dosen dari Kelompok Keahlian Geodesi ITB itu, masih berpeluang terjadi dengan kekuatan kecil. “Kecil kemungkinan untuk terjadi gempa lebih besar,” katanya.
Sementara itu, pakar gempa dari ITS, Dr Amien Widodo mengatakan, sejumlah wilayah di Jatim, terutama bagian selatan, berpotensi terjadi gempa. Sebab, kawasan ini masuk wilayah pertemuan lempengan Samudra Hindia menumbuk lempengan Eurasia (Eropa Asia). Di selatan Jawa tumbukan itu sepanjang 200 km. “Meski demikian masyarakat tidak perlu panik. Meski gempa tidak bisa diprediksi, namun bisa diketahui melalui aktivitasnya,” katanya.
Gempa di Bali tidak hanya menyebabkan sejumlah bangunan rusak di beberapa daerah, tapi juga menyebabkan korban luka-luka. Palang Merah Indonesia (PMI) melaporkan, sampai Kamis malam sudah puluhan orang yang luka-luka. Tercatat 32 orang terluka dan dua lainnya masih diidentifikasi.
Sumber : ant
Penulis : uni/st39/st35/tiq/uji/iks/fai
Editor : Sugeng Wibowo
Sumber : Surya.
Penulis : uni/st39/st35/tiq/uji/iks/fai
Editor : Sugeng Wibowo
Sumber : Surya.
Nama:Kristianto Agung
BalasHapusWebsite:savewasior.blogspot.com
Email:kristianto.agung.90@gmail.com
Comment:Bali adalah tujuan utama wisatawan mancanegara di Indonesia oleh karena itu kita harus mengantisipasi jika akan terjadi gempa di Bali